Rabu, 29 Desember 2010

Penilaian dalam Pasar Persaingan Sempurna

Suatu pasar disebut bersaing sempurna jika terdapat banyak penjual dan pembeli sehingga tidak ada satu pun dari mereka dapat mempengaruhi harga yang berlaku; barang dan jasa yang dijual di pasar adalah homogen; terdapat mobilitas sumber daya yang sempurna; setiap produsen maupun konsumen mempunyai kebebasan untuk keluar-masuk pasar; setiap produsen maupun konsumen mempunyai informasi yang sempurna tentang keadaan pasar meliputi perubahan harga, kuantitas dan kualitas barang dan informasi lainnya; tidak ada biaya atau manfaat eksternal berhubungan dengan barang dan jasa yang dijual di pasar.

Ciri-ciri pokok persaingan sempurna adalah sebagai berikut: Banyak penjual dan pembeli.Dalam pasar persaingan sempurna pengaruh individual sangat relatif kecil. Dengan demikian, penjual individu tidak mempunyai pengaruh terhadap harga penjualan mereka karena harga tersebut ditentukan oleh kondisi permintaan dan penawaran. Konsumen mengatuhui kondisi pasar kondisi pasar diketahui olehkonsumen sangat baik sehingga konsumen tidak dapat melakukan hal-hal yang bertentangan dengan kondisi pasar tersebut.Faktor-faktor produksi bergerak bebas faktor-faktor produksi dalam pasar persaingan sempurna dapat ebrgerak bebas karena banyaknya penjual dan pembeli.

Tidak ada campur tangan pemerintah.Harga ditentukan oleh mekanisme permintaan dan penawaran sehingga pemerintah tidak dapat ikut campur dlam penentuan harga. Konsekuensi dan ciri-ciri persaingan sempurna adalah sebagai berikut: Masing-masing penjual hanya berperan sebagai penerima harga.Kurva permintaan yang dihadapi oleh setiap penjual secara individual berbeda dengan kurva permintaan pasar.Produsen tidak perlu bersaing karena adanya homogenitas barang dan banyaknya produsen.

Penjual tidak mungkin melakukan persaingan harga dengan maksud merebut pasar karena harga adalah sesuatu yang harus diterima oleh masing-masing produsen. Barang yang ditawarkan penjual akan laku berapun jumlahnya tanpa mengalami penurunan harga. Bentuk pasar persaingan sempurna sangat sulit ditemui dalam kehidupan sehari-hari, namun sangat bermanfaat untuk mempelajari konsep-konsep pasar lainnya dalam ilmu ekonomi. Kebaikan pasar persaingan sempurna Tidak terdapat kegiatan saling menyaingi antar penjual.

Penjual tidak mungkin melakukan perebutan harga karena harga dalah suatu yang harus diterima oleh para produsen.Barang yang akan ditawarkan penjual akan laku berapapun jumlahnya tanpa mengalami penurunan harga. Informasi tentang pasar telahdiketahui oleh saingan usaha dan usaha untuk menyaingi perusahaan lainnya tidak akan menghasilkan apa-apa. Kelemahan-kelemahan pasar persaingan sempurna Pasar eprsaingan sempurna sulit dijumpai karena. Homogenitas barang adalah syarat yang sulit dilaksanakan karena konsumen sering datang ke pasar heterogen.

Yang membedakan perusahaan satu dan yang lainnya dalam pasar persaingan sempurna adalah fasilitas dan pelayanannya karena produk-produk homogen dalam pasar persaingan sempurna, produk yang ditawarkan oleh para penjual yang saling bersaing adalah identik. Artinya produk tersebut secara fisik sama dan menurut anggapan konsumen semua produk tersebut serba sama antara satu dengan yang lain. Pasar yang bebas dimasuki dan ditinggalkan Oleh karene seorang produsen/ penjual hanya menghasilakan sebagian kecil saja dari barang/jasa yang ditawarkan, maka produsen dapat saja meninggalkan pasar dengan dengan mudah dan memasuki kembali

Sumber

http://tutorialkuliah.blogspot.com/2009/10/pasar-persaingan-sempurna-perfect.html

http://massofa.wordpress.com/2008/03/04/pasar-persaingan-sempurna-dan-tidak-sempurna/

Selasa, 28 Desember 2010

Pasar Persaingan Oligopoli pada Merk Sampo

Pasar oligopoli adalah pasar yang didalamnya terdapat beberapa penjual terhadap 1 komoditi sehingga tindakan 1 penjual akan mempengaruhi tindakan penjual lainnya. Jika produknya homogen disebut oligopoli murni. Jika produknya berbeda corak disebut oligopoli beda corak.Dalam pasar oligopoli, setiap perusahaan memposisikan dirinya sebagai bagian yang terikat dengan pasar, di mana keuntungan yang mereka dapatkan tergantung dari tindak-tanduk pesaing mereka. Sehingga semua usaha promosi, pengenalan produk baru, iklan, perubahan harga, dan sebagainya dilakukan dengan tujuan untuk menjauhkan konsumen dari pesaing mereka.


Praktek oligopoli umumnya dilakukan sebagai salah satu upaya untuk menahan perusahaan-perusahaan potensial untuk masuk kedalam pasar, dan juga perusahaan-perusahaan melakukan oligopoli sebagai salah satu usaha untuk menikmati laba normal di bawah tingkat maksimum dengan menetapkan harga jual pasar sehingga menyebabkan kompetisi harga diantara pelaku usaha yang melakukan praktek oligopoli menjadi tidak ada. Struktur pasar oligopoli umumnya terbentuk pada industri-industri yang memiliki capital intensive yang tinggi, seperti, industri semen, industri mobil, dan industri kertas.


Asumsi yang mendasari kondisi di pasar oligopoli adalah pertama, penjual sebagai price maker. Penjual bukan hanya sebagai price maker, tetapi setiap perusahaan juga mengakui bahwa aksinya akan mempengaruhi harga dan output perusahaan lain, dan sebaliknya. Kedua, penjual bertindak secara strategik. Asumsi ketiga, kemungkinan masuk pasar bervariasi dari mudah sampai tidak mungkin masuk pasar ,dan asumsi keempat pembeli sebagai price taker. Setiap pembeli tidak bisa mempengaruhi harga pasar.


Sebagai contoh PT Unilever Indonesia Tbk. dan PT P&G Indonesia yang sangat sengit. Pada Unilever melempar empat merek shampoo, yaitu Sunsilk, Clear, Lifebuoy dan Dove. Hal yang sama juga dilakukan P&G, yaitu mengeluarkan merek Pantene, Rejoice, Head & Shoulders serta Herbal Essences. Maka, tak ayal lagi, pertempuran head-to-head dua musuh bebuyutan ini pun tak bisa dihindari. Dari kelayakan head-to-head, sebenarnya Sunsilk berpasangan dengan Pantene, Clear dengan Head & Shoulders, Lifebuoy dengan Rejoice, sementara Dove berhadapan dengan Herbal Essences. Namun, fakta di lapangan, yang terjadi malah persaingan multiple brands. Sering tidak jelas lagi siapa melawan siapa, bukan lagi sekadar merek vs. merek, tetapi Unilever vs. P&G dengan fokus memakan pelanggan pesaing.


Pada Unilever tergolong cukup menguasai industri ini karena dengan berbagai programnya cukup mengendalikan pasar. Hal ini dibuktikan dengan beberapa inovasi komunikasi yang dilakukan, antara lain Sunsilk Beauty Camp, Sunsilk Girls Day dan Sunsilk Class. Perlawanan Pantene lewat program anggun Cari Bintang Pantene merupakan pertanda bagaimana kedua merek ini berlomba menjadi pahlawan kecantikan para wanita Indonesia.


Dengan harga yang terjangkau kalangan menengah-bawah justru membuat Sunsilk sering dipersepsikan sampo untuk kalangan ibu-ibu dan remaja tradisional sehingga memang kelihatan lebih head on dengan sunsilk. Berbeda dari Pantene yang awalnya dengan harga mahal cukup diasosiasi sebagai produk untuk wanita modern. Sunsilk Circle of Beauty merupakan salah satu upaya Unilever memosisikan Sunsilk ke semua segmen, tak terbatas usia. langkah ini merupakan salah satu wujud kepedulian Unilever terhadap konsumen Sunsilk, yang utamanya adalah wanita.


Sumber

http://tuangkan.wordpress.com/2009/03/07/pasar-oligopoli-definisi-karakter-karakter/

http://guruhaji50407387.blogspot.com/2010/10/menganalisa-persaingan-produk-shampo.html

Senin, 27 Desember 2010

Konflik Masyarakat Dengan PT.Freeport

Konflik masyarakat lokal dengan Freeport sudah berlangsung lama, yakni sejak perusahaan tambang tembaga dan emas ini mulai diizinkan beroperasi pada tahun 1967.Bekilo-kilometer hutan, lahan sagu dan lahan berburu musnah tercemari limbah. Sungai dan anakan sungai tempat menangkap ikan dan udang, tak cuma tercemari, tapi tersumbat limbah tailing. (Saat ini gundukan tailing buangan menjadi daratan luas yang tampak putih keabu-abuan dari udara). Sementara itu, pihak perusahaan acuh-tak-acuh terhadap nasib penduduk lokal yang telah dicerai-beraikan dan dirusak kehidupannya.

Namun, setiap kali keluh-kesah masyarakat lokal tidak digubris. Mereka malah dipersalahkan dan kembali mendapat perlakuan semena-mena dari aparat keamanan Freeport. Pada 21 Februari 2006, para penambang tradisional di Tembagapura bentrok dengan aparat keamanan yang melarang kegiatan mereka. Massa memblokir jalan dari Timika ke Tembagapura yang sempat memacetkan operasi Freeport. Di bulan yang sama, berlangsung aksi simpati terhadap penambang tinja emas yang diusir dari areal PT Freeport. Aksi ini berlangsung di Jayapura, Wamena dan Jakarta.

Penyelesaian konflik antara masyarakat adat dengan PT Freeport Indonesia harus dilakukan secara adil dan bijaksana dengan mendegarkan aspirasi dan tuntutan masyarakat di daerah itu.
masalah tersebut yaitu kecemburuan sosial antara masyarakat asli dan non asli yang bekerja di PT Freeport itu tidak sebanding, karena mulai dari tukang sapu hingga direktur berdasi semuanya orang non Papua sehingga selalu menimbulkan masalah. Kondisi itu tidak pernah disadari dan diperhatikan secara baik oleh Pemerintah Pusat, Pemprov Papua maupun pihak perusahan, akibatnya masalah yang timbul tidak dapat diredam, karena jumlah tenaga kerja orang Papua sangat sedikit bila dibandingkan dengan non Papua.

Keberpihakan terhadap orang asli Papua, khususnya tujuh suku pemilik hak adat itu, tidak dampak terutama masalah kesejahteraan mereka tidak diperhatikan secara baik. Oleh karena itu tuntutan masyarakat tentang berapa persen yang akan diberikan pihak perusahan harus didengar dan digubris, sehingga tidak menimbulkan masalah yang berkepanjangan, karena dampaknya sangat besar, apabila PT Freeport ditutup. Manajemen perusahan agar selalu membuka diri, untuk memberitahukan berapa besar tambang tembaga, emas, dan perak yang sudah dikeruk yang dibawah keluar negeri, bahkan ke depan masyarakat pemilik hak adat juga harus dilibatkan dalam mengawasi aktifitas perusahan.

Sumber

http://static.rnw.nl/migratie/www.ranesi.nl/arsipaktua/indonesia060905/kabar_papua051117/konflik_freeport060414-redirected

http://www.antaranews.com/print/1141212096

Aqua Danone Merupakan Perusahaan yang Beroientasi pada CSR

MASIH banyak daerah di Indonesia yang ke¬sulitan mendapat akses air bersih. Pa¬dahal, air bersih merupakan faktor pen¬ting untuk mewujudkan hidup sehat.Di beberapa daerah di Nusa Tenggara Ti¬mur masih banyak warganya yang me¬ng¬alami kelangkaan air bersih. Untuk men¬dapatkannya, tak jarang mereka harus berjalan kaki dengan jarak yang jauh. Alhasil, banyak anak-anak kehila¬ng¬an waktu bermain karena harus meng¬am¬bil air.

Di salah satu desa di Timor Tengah Se¬la¬tan (TTS), Nusa Tenggara Timur, jarak sumber air dengan rumah penduduk sa¬ngat jauh. “Dibutuhkan satu jam untuk pergi pulang membawa air dalam jeriken tiap harinya,” ujar Sustainable Develop¬ment & CSR Aqua Danone Indonesia Bi¬na¬hidra Logiardi.

Kelangkaan air bersih memang men¬ja¬di sumber munculnya berbagai persoa¬l¬an di TTS. Masa depan sekolah tak ter¬urus karena anak-anak harus ber¬kon¬sen¬trasi penuh mencari air bersih. Belum lagi, pe¬nyakit demam berdarah, malaria, dan diare akut silih berganti mendera me¬re¬ka.

berdasarkan permasalahan tersebut Aqua Danone In¬donesia melalui Aqua untuk Anak Indo¬ne¬sia (AuAI) berkomitmen aktif mem¬ban¬tu memperbaiki kesejahteraan anak In¬donesia. Pemberdayaan masyarakat di TTS meru¬pa¬kan tahap pertama program Sa¬tu untuk Se¬puluh yang diluncurkan hari ini.

sebagai ben¬tuk nyata Satu untuk Sepuluh, pihak Aqua akan menyediakan 10 liter air bersih ba¬gi komunitas untuk kebutuhan me¬ma¬sak, mencuci, dan mandi dari setiap 1 liter bo¬tol Aqua ukuran 600 mililiter dan 1.500 mi¬liliter berlabel khusus yang terjual se¬jak Juli 2007 sampai dengan September 2007.

Perusahaan Aqua Danone tidak hanya mngambil keuntungan pribadi semata, tetapi juga memperhatikan program untuk kelangsungan hidup masyarakat/konsumennya, oleh sebab itu perusahaan Aqua Danone merupakan perusahaan yang beroientasi pada CSR.

sumber
http://www.rmexpose.com/detail.php?id=2180&judul=Aqua%20Danone%20Luncurkan%20Program%20%E2%80%99Satu%20untuk%20Sepuluh%E2%80%99